Tirai kesilauan telah turun
keriuhan mulai muncul
semakin gaduh
mengundang kakiku melangkah
senyum di bibirku merekah
menyaksikan kemeriahanmu dalam segala kesederhanaan
hijau segar daun singkong dan kangkung
putih kehijaunnya bunga pepaya
ubi, singkong, dan talas
membuatku rindu pulang
Jayapura, 31 Juli 2006
Thursday, September 20, 2007
Rindu
Hampir tengah malam
mataku tak mau terpejam
ada rindu yang menyesak
ada angan yang menyentak
dimana engkau?
Kusibukkan diriku dengan tumpukan kertas
kulipat-lipat diriku menepis bayangmu
mengapa dalam kejauhanmu
kau tak henti menggangguku?
Kupaksa baringkan tubuhku
kupejamkan mataku
kusembunyikan diriku dalam selimut
kuusir bayangmu.
Please, aku mau istirahat.
Ini sudah jam 2:30.
Hotel Yasmin Jayapura, 31 Juli 2006
mataku tak mau terpejam
ada rindu yang menyesak
ada angan yang menyentak
dimana engkau?
Kusibukkan diriku dengan tumpukan kertas
kulipat-lipat diriku menepis bayangmu
mengapa dalam kejauhanmu
kau tak henti menggangguku?
Kupaksa baringkan tubuhku
kupejamkan mataku
kusembunyikan diriku dalam selimut
kuusir bayangmu.
Please, aku mau istirahat.
Ini sudah jam 2:30.
Hotel Yasmin Jayapura, 31 Juli 2006
Timika Airport
Aku terkoyak di bayangku sendiri
anganku ikut meranggas
dalam hiruk pikuk suara
kulit legam dan keriting rambutmu
di balik kawat kandang ayam yang menjadi dindingmu.
Aku terjebak dalam khayal
lalu merintih dalam angkara
"Mengapa tega?"
30 Juli, 2006
anganku ikut meranggas
dalam hiruk pikuk suara
kulit legam dan keriting rambutmu
di balik kawat kandang ayam yang menjadi dindingmu.
Aku terjebak dalam khayal
lalu merintih dalam angkara
"Mengapa tega?"
30 Juli, 2006
Merapi - Merbabu
Kutatap Merapi-Merbabu dari kejauhan
berdampingan dalam diam
apa yang kalian simpan di diammu?
teduhkah?
Biarlah rukunmu menginspirasi
biarlah bijakmu meneladani
dan ijinkanlah
kusimpan rahasia hatiku
dalam gelora diammu
Agustus 4, 2006
berdampingan dalam diam
apa yang kalian simpan di diammu?
teduhkah?
Biarlah rukunmu menginspirasi
biarlah bijakmu meneladani
dan ijinkanlah
kusimpan rahasia hatiku
dalam gelora diammu
Agustus 4, 2006
Pasir Putih Manokwari
Seorang anak kecil mengajar adiknya
mengayuh kano
menantang laut terbentang luas
di terang matahari yang telah sedikit lelah
aku salut kepadamu pahlawan kecil
yang berani mengajarkan kehidupan
pada usiamu yang dini
tanpa banyak kata
tanpa banyak teori
Pantai pasir putih di Manokwari
membangunkan jiwaku
dan menginterogasi anganku
tentang apa yang sudah aku ajarkan
menyangkut hajat hidup anak-anak generasi bangsaku
Manokwari, Oktober 2005
mengayuh kano
menantang laut terbentang luas
di terang matahari yang telah sedikit lelah
aku salut kepadamu pahlawan kecil
yang berani mengajarkan kehidupan
pada usiamu yang dini
tanpa banyak kata
tanpa banyak teori
Pantai pasir putih di Manokwari
membangunkan jiwaku
dan menginterogasi anganku
tentang apa yang sudah aku ajarkan
menyangkut hajat hidup anak-anak generasi bangsaku
Manokwari, Oktober 2005
Aank Negeriku
Di balik kaca mata hitamku
kutatap perahu klotok di air coklat
sarat
berat
Punggungku membasah terpanggang terik matahari katulistiwa
seorang anak kecil menatapku
badannnya legam, kokoh
tangannya terulur
meminta sedekah
"Sudah 2 hari tak makan," katanya lirih
aku memejamkan mata sesaat
mengingat anakku di rumah
ah...
anak-anak negeriku
Pontianak, Feb 6, 2006
kutatap perahu klotok di air coklat
sarat
berat
Punggungku membasah terpanggang terik matahari katulistiwa
seorang anak kecil menatapku
badannnya legam, kokoh
tangannya terulur
meminta sedekah
"Sudah 2 hari tak makan," katanya lirih
aku memejamkan mata sesaat
mengingat anakku di rumah
ah...
anak-anak negeriku
Pontianak, Feb 6, 2006
Cinta Mati
dalam redum alam
dan desau nyiur di ujung senja
aku kehilangan arah
ditelan riuhnya nostalgi
gerimis kecil turut mencipta nuansa
dan hatikupun bergemuruh
wajahkau memerah
ujung bibirku tertarik kesudut
mataku buta
penuh bunga
aku kehilangan arah
dalam ahngat cinta mati
Denpasar - Feb 2006
dan desau nyiur di ujung senja
aku kehilangan arah
ditelan riuhnya nostalgi
gerimis kecil turut mencipta nuansa
dan hatikupun bergemuruh
wajahkau memerah
ujung bibirku tertarik kesudut
mataku buta
penuh bunga
aku kehilangan arah
dalam ahngat cinta mati
Denpasar - Feb 2006
Jogja-Wanasari
Memasuki Jogja
hatiku berdetak keras
mataku nyalang memandang ke seantero
masihkah bisa kutemui kotaku
lalu mulailah kulihat
satu rumah miring
satu rumah tak bergenteng
satu rumah tak berberanda
satu rumah tak beratap
satu rumah tak berbentuk
satu lagi ...
satu lagi ...
satu lagi ...
aku menutup mataku
tak mampu menatap yang ada....
-Sehari setelah gempa, akhir mei 2006
hatiku berdetak keras
mataku nyalang memandang ke seantero
masihkah bisa kutemui kotaku
lalu mulailah kulihat
satu rumah miring
satu rumah tak bergenteng
satu rumah tak berberanda
satu rumah tak beratap
satu rumah tak berbentuk
satu lagi ...
satu lagi ...
satu lagi ...
aku menutup mataku
tak mampu menatap yang ada....
-Sehari setelah gempa, akhir mei 2006
Gadis Kecil Irian
Berseragam putih merah
rambut keritingnya dikepang kecil di belakang
menoleh saat kupanggil 'Dik'
menyombongkan giginya yang putih
belum ternoda merahnya buah pinang
Lalu semburat merah naik ke pipinya
sansesaat
matanya nanar mencari ibunya
hendak menyembunyikan malunya.
"Tidak apa, Dik, Trapa...," ucapku
Dia menatapku lekat
tak percaya
Kuucap lagi "trapa..trapa.."
Kuulurkan hatiku dalam sapa
Lalu tanganya ragu terulur
menjabatku
sambil bibirnya tersenyum
Agustus 2006
rambut keritingnya dikepang kecil di belakang
menoleh saat kupanggil 'Dik'
menyombongkan giginya yang putih
belum ternoda merahnya buah pinang
Lalu semburat merah naik ke pipinya
sansesaat
matanya nanar mencari ibunya
hendak menyembunyikan malunya.
"Tidak apa, Dik, Trapa...," ucapku
Dia menatapku lekat
tak percaya
Kuucap lagi "trapa..trapa.."
Kuulurkan hatiku dalam sapa
Lalu tanganya ragu terulur
menjabatku
sambil bibirnya tersenyum
Agustus 2006
Crowning Me
Jayapura, Aug 2006
Genderang perang ditabuh riuh
wajahku memerah
langkahku goyah
hatiku terbawa riuh
lincah langkah kaki-kaki gelap mengitariku
aku larut dalam emosi jiwa
langkah kakiku jadi kelu
GEnderang perang riuh ditabuh
Nyanyian-nyanyian alam berkumandang lantang
wajahku berubah kuning, biru, hijau
aku tak mampu berlogika
aku dikuasai rasa
ada bintang jatuh ke dalam hatiku
ada rembulan jatuh masuk ke relung jiwaku
dan bibirku tak pernah berhenti berucap
"Tuhan, terimakasihku kepadaMu"
Jayapura, 2 Agustus 2006
Genderang perang ditabuh riuh
wajahku memerah
langkahku goyah
hatiku terbawa riuh
lincah langkah kaki-kaki gelap mengitariku
aku larut dalam emosi jiwa
langkah kakiku jadi kelu
GEnderang perang riuh ditabuh
Nyanyian-nyanyian alam berkumandang lantang
wajahku berubah kuning, biru, hijau
aku tak mampu berlogika
aku dikuasai rasa
ada bintang jatuh ke dalam hatiku
ada rembulan jatuh masuk ke relung jiwaku
dan bibirku tak pernah berhenti berucap
"Tuhan, terimakasihku kepadaMu"
Jayapura, 2 Agustus 2006
Dari Timika ke Bali 2006
Jendela nomor 24
membawaku berwisata menikmati cerahnya langit biru
dengan spot putih berserak tanpa aturan
mataku dan batinku terpuaskan
Sejenak muncul sosok tanpa maksa
lalu logikau mulai berjalan
coklat kehijauan di bawah sana
adalah pulau-pulau negeriku
kureka-rekan bentuknya dalam benakku
dan kukerahkan daya ingatku ke ajaran Pak Guru Ilmu Bumi di jamanku
benar....
itu Flores, Sumba...Sumbawa...
aku tersenyum pada diriku sendiri...
Ilmu Bumi itu...baru 'make sense'.
membawaku berwisata menikmati cerahnya langit biru
dengan spot putih berserak tanpa aturan
mataku dan batinku terpuaskan
Sejenak muncul sosok tanpa maksa
lalu logikau mulai berjalan
coklat kehijauan di bawah sana
adalah pulau-pulau negeriku
kureka-rekan bentuknya dalam benakku
dan kukerahkan daya ingatku ke ajaran Pak Guru Ilmu Bumi di jamanku
benar....
itu Flores, Sumba...Sumbawa...
aku tersenyum pada diriku sendiri...
Ilmu Bumi itu...baru 'make sense'.
Sengigi July 2005
Matahari masih berani
Aku duduk diam sendiri di atas pasir Sengigi
aku tahu itu salah
anganku kulepas tanpa kendali
berangan, berandai,
kuijinkan mengaduk segala rasa
senang, riang, sesal, sesak
Kupanggil Tuhan
kuajak bercakap
tentang kenapa dan kenapa
kutawar dan kupinta
Kutatap ke depan
matahari telah siap ke peraduan
Tuhan, masih bolehkan aku terus menawar?
Jendela 24 C
Subscribe to:
Comments (Atom)

